DISCLAIMER: Pertanyaan ini bukan untuk meragukan ajaran. Tetapi untuk membuka pemahaman tentang diri sendiri.
#
Pembaca yang budiman,
Mengapa di bulan Ramadhan godaan itu tetap terasa?
Mengapa kita masih ingin marah?
Masih ingin curang?
Masih ingin ingkar?
Masih ingin berlebihan?
Masih ingin mengikuti godaan yang kita tahu itu tidak boleh?
Kita sering membayangkan godaan selalu datang dari luar. Seolah ada sosok lain (asing atau eksternal) yang mendorong kita melakukan kesalahan.
Tergoda sendiri. Datang dari dalam. Ada polanya.
Dari keinginan yang terasa wajar.
Dari ambisi yang terlihat masuk akal.
Dari rasa ingin dihargai.
Dari kenyamanan yang sulit dilepaskan.
Bahkan dari pembenaran yang terasa logis.
JELAS DARI MANA DATANGNYA GODAAN ITU
Kita melihat sesuatu, lalu ingin. Kita mendengar sesuatu, lalu tersulut. Kita merasa tidak nyaman, lalu mencari pelarian. Kita mengingat sesuatu yang nikmat di masa lalu, kemudian ingin mengulanginya. Kita merasa takut atau kurang, lalu bertindak untuk mengatasinya.
Godaan menjadi tidak baik jika konsekuensinya buruk.
Godaan hanya menawarkan rasa yang menyenangkan. Sering tindakan terjadi otomatis. Bahkan sebelum akal sempat menimbang.
Datang lebih cepat dari pikiran kita.
Konsekuensinya datang belakangan.
Kadang baik.
Kadang buruk.
Kadang cepat
Kadang lambat.
Kadang baru terasa ketika semuanya sudah terlambat.
Sadar seharusnya tidak begitu. Ada cara yang lebih baik.
POLA DAN PROSESNYA HAMPIR SELALU OTOMATIS
Cepat. Spontan. Tanpa banyak berpikir.
Stimulus → Godaan → Tindakan
Stimulus adalah pemicunya. Godaan terjadi ketika dorongan muncul dan ingin segera diwujudkan.
Banyak masalah muncul ketika godaan langsung menjadi tindakan — tanpa jeda sejenak untuk berfikir
Kita semua pernah mengalaminya,
contohnya:
Baru saja makan, tiba-tiba ingin ngemil.
Tahu sesuatu tidak baik, tetapi tetap dilakukan.
Tahu itu melanggar prinsip, tapi rasanya sulit menolaknya.
Akibatnya bisa macam-macam, seperti obesitas, diabetes, hipertensi, dan lain sebagainya.
Tetapi tidak semua godaan atau dorongan itu buruk. Banyak yang tampak wajar. Bahkan terlihat baik. Tetapi tentu akan lebih baik lagi jika ada jeda waktu untuk memikirkannya.
PUASA MERUBAH POLA ITU
Puasa memaksa hadirnya jeda atau selang waktu untuk berfikir.
Stimulus → Godaan → Jeda sejenak→ Keputusan → Tindakan
Jeda sejenak adalah ruang kendali sebelum memutuskan untuk bertindak atau tidak.
“Saya tidak akan langsung mengikuti begitu saja.”
Ada komitmen sadar:
Saat haus datang, kita tidak langsung minum.
Saat lapar datang, kita tidak langsung makan.
Saat ingin, kita tidak otomatis diikuti.
Godaan tetap ada. Lapar tetap ada. Haus tetap terasa. Keinginan tetap muncul. Tetapi puasa merubah polanya.
PENUTUP
Ramadhan memperlihatkan kepada kita sesuatu yang ada selama ini tetapi sering tertutup oleh kebiasaan:
bahwa kita sebenarnya mampu untuk menahan godaan (dorongan)
Jika di bulan Ramadhan kita mampu menahan makan berjam-jam, padahal makanan ada di depan mata,
maka sebenarnya kendali itu sudah ada dalam diri tetapi jarang digunakan
Kendali bukan berarti menghilangkan dorongan untuk bertindak. Bukan berarti mematikan keinginan tetapi mengendalikannya.
Pada akhirnya, yang menentukan bukan seberapa kuat godaan itu tetapi seberapa sadar kita sebelum bertindak.
Dan mungkin di situlah makna “dibelenggu” itu menjadi lebih relevan bagi kita. Belenggu untuk tidak menjadikan dorongan (godaan) auto dikerjakan.
Happy Ramadhan,
Wallahu a'lam bish-shawab
Catatan:
Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber.
Artikel terkait:
Mengapa BARU TAUBAT SETELAH TIDAK BERDAYA
02. Puasa Ramadhan: MENYADARKAN - KITA BUKAN BUDAK NAFSU
03. Puasa Ramadhan: SEKALIAN SEKOLAH MARTABAT DAN HARGA DIRI. PENTINGKAH?
04. Puasa Ramadhan: KEDEWASAAN KITA TERLIHAT SAAT BERBUKA
05. Puasa Ramadhan: MENGAJARKAN TEKAD ITU LEBIH KUAT DARI SEKEDAR NIAT. LET'S FIND OUT
06. Puasa Ramadhan: SAAT-SAAT KITA MERASA TIDAK ADA YANG MENGAWASI
07. Puasa Ramadhan: MANFAAT BIOLOGIS YANG NYATA
08. Puasa Ramadhan: KEMBALI KEMANA SAAT HARI RAYA?
trt-1