DISCLAIMER: Ini bukan untuk meragukan ajaran. Tetapi untuk membuka pemahaman tentang diri sendiri.
#
Pembaca yang budiman,
Sehari-hari, hidup kita berjalan dengan cepat. Hidup kita tidak terlepas dari nafsu.
Kata 'nafsu' memiliki beberapa makna, di antaranya: keinginan, kecenderungan, atau dorongan hati yang kuat; gairah, atau meradang. Bila ditambah dengan kata 'hawa', menjadi hawa nafsu, maka bermakna dorongan hati yang kuat untuk berbuat kurang baik (definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Keinginan datang silih berganti. Respon kita pun biasanya:
• Cepat.
• Spontan.
• Kadang tanpa banyak mikir.
Just Do It. Lakukan saja. Mainkan saja.
POLA DAN PROSESNYA HAMPIR SELALU OTOMATIS
Cepat. Spontan. Tanpa banyak berpikir.
Stimulus → Godaan → Tindakan
Stimulus adalah pemicunya. Godaan terjadi ketika dorongan nafsu muncul dan ingin segera diwujudkan.
Bahkan kadang melakukan pembenaran hanya untuk menyenangkan hati.
Ini proses yang pelan-pelan menggerus martabat dan harga diri.
Setiap kali prinsip dikalahkan, ada bagian kecil dalam diri yang runtuh. Dan jika itu terjadi berulang, manusia mulai kehilangan dirinya sendiri.
APA ITU BUDAK NAFSU? NAFSU SIAPA?
Budak nafsu adalah ketika dorongan menjadi penentu keputusan.
Ia tidak lagi memilih — ia hanya bereaksi.
Ia tidak lagi memimpin dirinya — ia hanya digerakkan.
Ia tidak lagi berprinsip — ia hanya mengikuti suasana.
Hari ini ingin dihargai, ia mengejar pun pujian.
Besok ingin terlihat hebat, ia pun memaksakan pencitraan.
Lusa takut kehilangan status, ia rela mengorbankan nilai.
Bahaya terbesar menjadi budak nafsu bukan pada kesalahan saat tindakan dilakukan. Bahayanya ada pada proses pelan-pelan yang menggerus maartabat dah harga dirinya.
Nafsu siapa? Nafsu diri sendiri maupun nafsu orang lain.
PUASA RAMADHAN
Puasa bukan sekadar menahan haus dan lapar.
Ia adalah latihan kedaulatan diri. Latihan untuk tetap bermartabat walau kondisi tidak nyaman.
Puasa adalah sekolah pengendalian diri.
Tujuannya bukan untuk mensimulasikan penderitaan, melainkan mengembalikan manusia ke posisi awalnya, yaitu: makhluk yang punya harga diri, mampu memilih, dan tidak hidup semata-mata mengikuti dorongan nafsu.
Kita belajar bahwa hidup tidak harus selalu mengikuti keinginan.
Tidak setiap dorongan harus dituruti. Tidak setiap rasa ingin harus dipenuhi.
Dan di bulan Ramadhan ini lah pelajaran besar itu dilatih.
BUKAN DIBATASI. JUSTRU DIBERI KEBEBASAN
Saat berpuasa secara lahiriah memang dibatasi:
• Waktu makan ditentukan.
• Waktu minum ditentukan.
• Hubungan biologis dibatasi.
• Aktivitas tetap berjalan normal meskipun energi berkurang.
Namun justru di dalam batas itu, ada ruang kebebasan yang dalam yaitu:
kebebasan untuk memilih taat atau tidak, kebebasan untuk menahan atau menyerah, kebebasan untuk menjaga prinsip atau mencari pembenaran.
Walau tidak ada manusia yang melihat atau CCTV yang mengawasi.
Inilah paradoksnya.
Secara fisik kita dibatasi, tetapi secara batin kita sedang melatih kebebasan yang sejati.
Kebebasan sejati BUKAN BERARTI boleh melakukan apa saja yang kita mau.
Kebebasan sejati adalah kemampuan untuk berkata “tidak” pada diri sendiri ketika ada dorongan yang kuat sekalipun.
Tidak ada orang lain yang tahu kualitas puasa kita. Hanya Allah yang tahu.
YANG BERBAHAYA BUKAN HAUS DAN LAPAR, TAPI PEMBENARAN
Rasa haus dan lapar itu hanya permukaan.
Yang jauh lebih halus adalah bisikan di dalam diri
berupa:
• “Sedikit saja tidak apa-apa.”
• “Tidak ada yang tahu.”
• “Kamu sudah capek, itu pantas buat kamu.”
Puasa memperlihatkan bahwa godaan terbesar bukan berasal dari luar
Ia datang dari dalam — berupa SUGESTI dan PEMBENARAN internal.
PUASA MERUBAH POLA ITU
Puasa memaksa hadirnya jeda atau selang waktu untuk berfikir.
Stimulus → Godaan → Jeda sejenak→ Keputusan → Tindakan
Jeda sejenak adalah ruang kendali sebelum memutuskan untuk bertindak atau tidak.
Ruang kendali merupakan ruang kebebasan untuk memilih taat atau tidak, untuk menahan atau menyerah, untuk menjaga prinsip atau mencari pembenaran.
Godaan tetap ada. Lapar tetap ada. Haus tetap terasa. Keinginan tetap muncul. Tetapi polanya berubah.
Hidup tidak harus selalu mengikuti keinginan.
Ini perlu latihan dan teruji.
PENUTUP
Puasa adalah latihan kedaulatan diri. Latihan untuk tetap bermartabat walau kondisi tidak nyaman di bawah tekanan atau dorongan atau nafsu atau 'bisikan dari dalam'.
Puasa melatih jeda.
• Jeda antara stimulus dan tindakan.
• Jeda antara emosi dan reaksi.
• Jeda antara keinginan dan keputusan.
Di dalam jeda itu, manusia menemukan kembali dirinya. Bukan sebagai budak nafsu. Bukan sebagai pengikut dorongan.
Melainkan sebagai pribadi yang berdaulat atas dirinya sendiri.
Happy Ramadhan,
Wallahu a'lam bish-shawab
Catatan:
Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber.
Artikel terkait:
Mengapa Saya Disuruh BERTAUBAT? APA SALAH SAYA?
01. Puasa Ramadhan: JIKA SETAN DIBELENGGU, LALU SIAPA YANG MENGGODA KITA?
03. Puasa Ramadhan: SEKALIGUS SEKOLAH MEMBANGUN MARTABAT DAN HARGA DIRI. PENTINGKAH?
04. Puasa Ramadhan: KEDEWASAAN KITA TERLIHAT SAAT BERBUKA
05. Puasa Ramadhan: MENGAJARKAN KITA TEKAD ITU LEBIH KUAT DARI SEKEDAR NIAT. LET'S FIND OUT
06. Puasa Ramadhan: SAAT-SAAT KITA MERASA TIDAK ADA YANG MENGAWASI
07. Puasa Ramadhan: MANFAAT BIOLOGIS YANG NYATA
08. Puasa Ramadhan: KEMBALI KEMANA SAAT HARI RAYA?
trt-1