DISCLAIMER: Ini bukan untuk meragukan ajaran. Tetapi untuk membuka pemahaman tentang diri sendiri.
#
Pembaca yang budiman,
Puasa dari luar terlihat sederhana: tidak makan, tidak minum, menahan diri.
Tubuh juga berada dalam kondisi yang berbeda dari biasanya:
• Kadar gula darah menurun.
• Tubuh bekerja dalam mode hemat energi.
• Otak sensitif terhadap reward atau imbalan.
Kita merasakan semakin dekat ke waktu berbuka, semakin kuat pula perasaan yang menuntut “hadiahnya”.
Banyak orang mampu bertahan sepanjang hari, tetapi ironisnya kehilangan kendali di saat berbuka puasa. Saaat yang dilarang diperbolehkan.
Padahal, jika dilihat dari tujuan puasa, kondisi ini justru ironis.
Sepanjang hari seseorang berlatih mengendalikan dorongan yang muncul dari dalam dirinya. Tetapi ketika momen kebebasan tiba, ia kalah. Justru dorongan itu yang kembali mengambil alih kendali.
Jika hal itu benar terjadi, maka puasa hanya menjadi arena penundaan.
Mungkin ia berfikir bahwa kewajiban sudah selesai. Berbuka puasa menjadi seperti momen untuk melepas segala dahaga yang ditahan seharian. Ajang balas dendam.
Ini bukan lagi latihan pengendalian diri. KEWAJIBAN PUASA RAMADHAN ITU 30 HARI.
"BALAS DENDAM PSIKOLOGIS"
Saat suara adzan Maghrib terdengar, perubahan psikologis langsung terjadi.
Larangan yang berlaku sepanjang hari sudah dicabut. Apa yang sejak pagi harus ditahan, sekarang diperbolehkan.
Fenomena 'balas dendam' ini sering muncul dalam bentuk yang sangat familiar:
• makan dalam jumlah berlebihan,
• minum secara berlebihan,
• euforia yang berlebihan,
• dan lain sebagainya.
Padahal sepanjang hari tubuh dan pikiran baru saja dilatih untuk menahan diri.
UJIAN DI AKHIR HARI PUASA: saat berbuka
Bayangkan melihat seseorang yang gagal menjalani ujian. Latihan ia jalani sepanjang hari dengan disiplin. Ia berhasil melewati berbagai godaan, menahan lapar, menahan haus, bahkan menahan emosi. Namun, mengapa ia bisa “gagal” di akhir hari?
Mungkin ia menganggap latihan hari itu sudah selesai. Padahal justru itu lah ujian terakhirnya hari itu: saat berbuka.
Banyak orang bisa menahan diri karena ada aturan yang jelas. Tantangan sebenarnya muncul ketika kebebasan sudah diberikan.
Menahan diri ketika dilarang relatif mudah. Menahan diri ketika diperbolehkan bisa lebih sulit .
Di saat berbuka ini, seseorang benar-benar diuji: apakah ia masih memegang kendali, atau lepas kendali kendali atas dirinya.
MENGAPA LEPAS KENDALI ITU BERBAHAYA
Ketika seseorang kehilangan kendali saat berbuka, yang terjadi sebenarnya tidak sederhana. Ada pola psikologis yang sedang terbentuk:
Otak belajar satu hal sederhana: tahan dulu, nanti ada kesempatan membalas.
Jika pola ini terus berulang berkali-kali, berhari-hari, maka pengendalian diri tidak benar-benar terbentuk.Yang terbentuk justru siklus kompensasi atau pembenaran diri.
Menahan diri sebentar, lalu melampiaskannya secara berlebihan.
PENUTUP
Dalam banyak hal, kedewasaan seseorang jarang terlihat ketika aturan masih ketat.
Kedewasaan justru terlihat ketika kebebasan sudah diberikan.
Hal yang sama berlaku pada puasa. Selama siang hari, aturan membantu kita menahan diri. Tetapi saat Maghrib tiba, aturan itu berubah menjadi diizinkan.
Di titik itulah seseorang benar-benar berhadapan dengan dirinya sendiri.
Apakah ia MASIH memegang kendali atau TIDAK?
Happy Ramadhan,
Wallahu a'lam bish-shawab
Catatan:
Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber.
Artikel terkait:
01. Puasa Ramadhan: JIKA SETAN DIBELENGGU, LALU SIAPA YANG MENGGODA KITA?
02. Puasa Ramadhan: MENYADARKAN - KITA BUKAN BUDAK NAFSU
03. Puasa Ramadhan: SEKALIGUS SEKOLAH MEMBANGUN MARTABAT DAN HARGA DIRI. PENTINGKAH?
05. Puasa Ramadhan: MENGAJARKAN KITA TEKAD LEBIH KUAT DARI SEKEDAR NIAT. LET'S FIND OUT
06. Puasa Ramadhan: SAAT-SAAT KITA MERASA TIDAK ADA YANG MENGAWASI
07. Puasa Ramadhan: MANFAAT BIOLOGIS YANG NYATA
08. Puasa Ramadhan: KEMBALI KEMANA SAAT HARI RAYA?
trt-1